Minggu, 18 September 2011

ASKEP DEMENSIA



A.   Konsep Dasar Penyakit

1.      Definisi/ Pengertian
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan kemampuan bersosialisasi. (Arif Mansjoer, 1999)
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan fungsi vegetatif atau keadaan terjaga. Memori, pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, dan interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu. (Elizabeth J. Corwin, 2009)
Demensia adalah penurunan fungsi intelektual didapat yang menyebabkan hilangnya independensi sosial. (William F. Ganong, 2010)

2.      Etiologi/ penyebab
a.       Infeksi
1)      Neurosifilis
2)      Tuberkolosis
3)      Penyakit virus
b.      Gangguan metabolik
1)      Hipotiroidisme
2)      Keseimbangan elektrolit
c.       Defisiensi zat-zat makanan
1)      Defisiensi vitamin B12
2)      Defisiensi Niamin
3)      Defisiensi Korsakoff (tiamin)
d.      Lesi desak ruang
1)      Hematoma subdural
2)      Tumor
3)      Abses
e.       Infark otak
f.       Zat-zat toksik
1)      Obat-obatan
2)      Alkohol
3)      Arsen
g.      Gangguan vaskuler
1)      Embolus serebral
2)      Vaskulitis serebral
h.      Lain-lain
1)      Penyakit Parkinson
2)      Penyakit Wilson
3)      Penyakit Huntington
4)      Depresi
5)      Cedera kepala sebelumnya
 
3.      Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya demensia adalah:
a.       Degenerasi yang berhubungan dengan proses menua.
b.      Gangguan suplai oksigen, glukosa dan zat-zat makanan yang penting untuk fungsi otak:
1)      Arteriosklerotik vaskuler
2)      Serangan iskemik singkat
3)      Perdarahan otak
4)      Gangguan infak pada otak
c.       Penumpukan racun pada jaringan otak
d.      Penyakit hati kronik
e.       Penyakit ginjal kronik
f.       Kekurangan vitamin (B1 atau Tiamin)
g.      Malnutrisi
h.      Penyakit HIV

Factor presipitasi

Setiap kelainan atau gangguan pada otak dapat menjadi factor presipitasi pada gangguan kognitif. Kelainan tersebut antara lain:
a.       Hipoksia
b.      Gangguan metabolism (hipertiroidisme, hipotiroidisme, penyakit adrenal, hipoglikemia)
c.       Racun pada otak
d.      Adanya perubahan struktur pada otak
e.       Stimulus lingkungan yang kurang atau berlebih yang mengakibatkan gangguan sensori.
f.       Respon perlawanan terhadap pengobatan.

4.      Tanda dan Gejala
a.       Hilangnya memori (tahap awal kehilangan memori yang baru seperti lupa sedang memasak makanan di kompor, tahap selanjutnya kehilangan memori masa lalu seperti melupakan nama anak-anak, pekerjaan).
b.      Penurunan fungsi bahasa (melupakan nama benda-benda umum seperti kursi atau meja, palilalia [mengulangi suara], dan mengulang kata-kata yang didengar [ekolalia]).
c.       Kehilangan kemampuan untuk berpikir abstrak dan merencanakan, memulai, mengurutkan, memantau, atau menghentikan perilaku yang kompleks (kehilangan fungsi eksekutif): klien kehilangan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri.



 



5.      Klasifikasi
Menurut kerusakan struktur otak
a.       Tipe Alzheimer
Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.
b.      Demensia vascular
Demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. “Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,”. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler.

6.      Penatalaksanaan Medik
      Demensia dapat disembuhkan bila tidak terlambat. Secara umum, terapi pada demensia adalah perawatan medis yang mendukung, memberi dukungan emosional pada pasien dan keluarganya, serta farmakoterapi untuk gejala yang spesifik. Terapi simtomatik meliputi diet, latihan fisik yang sesuai, terapi rekreasional dan aktivitas, serta penanganan terhadap masalah-masalah lain.
      Sebagai farmakoterapi, benzodiazepin diberikan untuk ansietas dan insomnia, antidepresan untuk depresi, serta antipsikotik untuk gejala waham dan halusinasi.
7.      Peran Keluarga
      Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju
kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.
      Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita
demensia.
      Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema, walaupun
setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka, mungkin mereka tidak
akan pernah mengenal dan mengingat siapa kita, bahkan tidak ada ucapan terima
kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Kesabaran adalah sebuah
tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia.
Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang
terjadi pada dirinya. Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala
yang muncul akibat demensia.
      Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat
menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat
Lansia dengan demensia.

8.      Tingkah Laku Lansia
      Pada suatu waktu Lansia dengan demensia dapat terbangun dari tidur malamnya dan panik karena tidak mengetahui berada di mana, berteriak-teriak dan sulit untuk ditenangkan. Untuk mangatasi hal ini keluarga perlu membuat Lansia rileks dan aman. Yakinkan bahwa mereka berada di tempat yang aman dan bersama dengan orang-orang yang menyayanginya. Duduklah bersama dalam jarak yang dekat, genggam tangan Lansia, tunjukkan sikap dewasa dan menenangkan. Berikan minuman hangat untuk menenangkan dan bantu lansia untuk tidur kembali.
      Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak
memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri
maupun orang lain. Mereka dapat saja menyalakan kompor dan meninggalkannya
begitu saja. Mereka juga merasa mampu mengemudikan kendaraan dan tersesat
atau mungkin mengalami kecelakaan. Memakai pakaian yang tidak sesuai kondisi
atau menggunakan pakaian berlapis-lapis pada suhu yang panas.
      Seperti layaknya anak kecil terkadang Lansia dengan demensia bertanya sesuatu yang sama berulang kali walaupun sudah kita jawab, tapi terus saja pertanyaan yang sama disampaikan. Menciptakan lingkungan yang aman seperti tidak menaruh benda tajam sembarang tempat, menaruh kunci kendaraan ditempat
yang tidak diketahui oleh Lansia, memberikan pengaman tambahan pada pintu
dan jendela untuk menghindari Lansia kabur adalah hal yang dapat dilakukan
keluarga yang merawat Lansia dengan demensia di rumahnya.

9.      Pencegahan & Perawatan Demensia
Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia
diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa
mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
a.       Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.
b.      Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.
c.       Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif
Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
d.      Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobby.
e.       Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam
kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat.

10.  Prognosis
      Prognosis tergantung usia timbulnya, tipe demensia, dan berat deteriorasi. Pasien dengan onset yang dini dan ada riwayat keluarga dengan demensia mempunyai perjalanan penyakit yang lebih progresif.


B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan  dengan Demensia

1.      Pengkajian
a.       Identitas
Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
b.      Keluhan utama
Keluhan utama atau sebab utama yang menyebbkan klien datang berobat (menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun.
c.       Pemeriksaan fisik
Kesadaran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun, takikardia, febris, BB menurun karena nafsu makan yang menurun dan tidak mau makan.
d.      Psikososial
1)      Genogram.
2)      Konsep diri
a)   Ganbaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri karena proses patologik penyakit.
b)   Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan  individu.
c)   Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.
d)  Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada.
e)   Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.

3)      Hubungan sosial
Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan sosial khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat  maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial yang tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan tergantung.
4)      Spiritual
Keyakina klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat.a tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan ibadatnmya sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
e.       Status mental
1)      Penampila klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat dirinya sendiri.
2)       Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
3)      Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif, manerisme, otomatis, steriotipi.
4)      Alam perasaan
Klien nampak ketakutan dan putus asa.
5)      Afek dan emosi.
Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu karena jika langsung mengalami perasaa tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan perubahan afek yang digunakan klien untukj melindungi dirinya, karena afek yang telah berubahn memampukan kien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen
6)      Interaksi selama wawancara
Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng kooperatif, kontak mata kurang.
7)      Persepsi
Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau kebiuh panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi.
8)      Proses berpikir
Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima.
Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi dan neologisme.
9)      Tingkat kesadaran
Kesadaran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan orang
10)  Memori
Gangguan daya ingat sudah lama terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu).
11)  Tingkat konsentrasi
Klien tidak mampu berkonsentrasi
12)  Kemampuan penilaian
Gangguan berat dalam penilaian atau keputusan.


f.       Kebutuhan klien sehari-hari
1)      Tidur, klien sukar tidur karena cemas, gelisah, berbaring atau duduk dan gelisah . Kadang-kadang terbangun tengah malam dan sukar tidur kemabali. Tidurnya mungkin terganggu sepanjang malam, sehingga tidak merasa segar di pagi hari.
2)      Selera makan, klien tidak mempunyai selera makan atau makannya hanya sedikit, karea putus asa, merasa tidak berharga, aktivitas terbatas sehingga bisa terjadi penurunan berat badan.
3)      Eliminasi
Klien mungkin tergnaggu buang air kecilnya, kadang-kdang lebih sering dari biasanya, karena sukar tidur dan stres. Kadang-kadang dapat terjadi konstipasi, akibat terganggu pola makan.
4)      Mekanisme koping
Apabila klien merasa tridak berhasil, kegagalan maka ia akan menetralisir, mengingkari atau meniadakannya dengan mengembangkan berbagai pola koping mekanisme. Ketidak mampuan mengatasi secara konstruktif merupakan faktor penyebab primer terbentuknya pola tiungkah laku patologis. Koping mekanisme yang digunakan seseorang dalam keadaan delerium adalah mengurangi kontak mata, memakai kata-kata yang cepat dan keras (ngomel-ngomel) dan menutup diri.

g.      Daftar masalah Keperawatan
1)       Perubahan proses pikir
2)      Resiko jatuh   
3)      Resiko nutrisi/cairan kurang dari kebutuhan tubuh
4)      kemunduran daya ingat
5)      Penatalaksanaan regimen terapiotik tidak efektif


h.      Pohon Masalah
Resiko jatuh
 
                                   


Perubahan proses pikir
 
 

Resiko nutrisi/cairan kurang dari kebutuhan tubuh
 
           







Penatalaksanaan regimenterapiotik tidak efektif
 

 





2.    Diagnosa Keperawatan
a.       Perubahan proses pikir
b.      kemunduran daya ingat
c.       Resiko jatuh
d.      Resiko nutrisi/cairan kurang dari kebutuhan tubuhLima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit
Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga
membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya
(Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori,
kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.
e.      Penatalaksanaan regimen terapiotik tidak efektif















Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe Alzheimer dan
Vaskuler.
Demensia Alzheimer
Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat
gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat,
dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang
massif. Kematian sel-sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun
waktu 30 tahun. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang
menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut
dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan
barang-barang sekalipun yang termudah. Hal ini disebabkan adanya gangguan
kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti, Wahan (curiga, sampai
menuduh ada yang mencuri barangnya), halusinasi pendengaran atau
penglihatan, agitasi (gelisah, mengacau), depresi, gangguan tidur, nafsu makan
dan gangguan aktifitas psikomotor, berkelana.
Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :
Stadium I
Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan
memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. “Fungsi memori yang terganggu
adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami
Stadium II
Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya
antara lain,
Disorientasi
gangguan bahasa (afasia)
penderita mudah bingung
penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan
kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah
melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.
Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di
lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,”
.Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala
klinisnya antara lain:
Penderita menjadi vegetatif
tidak bergerak dan membisu
daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya
sendiri
tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil
kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain
kematian terjadi akibat infeksi atau trauma
Demensia Vaskuler
Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi
darah di otak. “Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat
terjadinya demensia,”. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat
gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai
demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler
daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri
sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler.
Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya:
Kelainan sebagai penyebab Demensia :
penyakit degenaratif
penyakit serebrovaskuler
keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO
trauma otak
infeksi (Aids, ensefalitis, sifilis)
Hidrosefaulus normotensif
Tumor primer atau metastasis
Autoimun, vaskulitif
Multiple sclerosis
Toksik
kelainan lain : Epilepsi, stress mental, heat stroke, whipple disease
Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensi
Gangguan psiatrik :
Depresi
Anxietas
Psikosis
Obat-obatan :
Psikofarmaka
Antiaritmia
Antihipertensi
Antikonvulsan
Digitalis
Gangguan nutrisi:
Defisiensi B6 (Pelagra)
Defisiensi B12
Defisiensi asam folat
Marchiava-bignami disease
Gangguan metabolisme :
Hiper/hipotiroidi
Hiperkalsemia
Hiper/hiponatremia
Hiopoglikemia
Hiperlipidemia
Hipercapnia
Gagal ginjal
Sindromk Cushing
Addison’s disesse
Hippotituitaria
Efek remote penyakit kanker
Tanda dan Gejala Demensia
Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan
kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari..
Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam
puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala
yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya
mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh
penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa
meletakkan suatu barang.
Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa
itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai
dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa
khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi
keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak
istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik
penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka.
Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia,
mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini
dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah
kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan
bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita
demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus
pemeriksaan.
Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan.
Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan
mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal
yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan
seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan
penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu,
pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian status mental dan sebagai
penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.
Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin
mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik
perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia.
Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap
empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan
sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat
terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi,
depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan
melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari
secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal
(Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998).
Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb:
Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa”
menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun,
tempat penderita demensia berada
Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar,
menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau
cerita yang sama berkali-kali
Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah
drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa
takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti
mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah
Diagnosis
Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:
Pembedaan antara delirium dan demensia
Bagian otak yang terkena
Penyebab yang potensial reversibel
Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
Pencitraan otak amat penting CT atau MRI
Choose the language in which you want to experience Scribd:
3.    Intervensi
DX Perubahan  Proses Pikir.
Tangal/jam
TUM
TUK
Intervensi

Klien tidak mengalami gangguan proses pikir.
Tuk 1.
Setelah di lakukan pertemuan selama 4X15 menit selama 6 jam, di harapakan klien dapat membina hubungan saling percaya dengan kreteria hasil :
Klien menunjukan rasa senang ekpresi wajah bersahabat mau berjabat tangan ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau dudk berdampingan



Tuk 2.
Setelah dilakukan pertemuan 2X15 menit selama 6 jam dalam 1 pekan klien mampu mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan tempat dengan kreteria hasil: klien mamapu menyabutkan mana orang yang ada di sekitarnya, klien mampu menyabutkan hari dan tempat yang di kunjunginya.








Tuk3.
Setelah dilakukan pertemuan 2X15 menit selama 6 jam dalam 1 pekan Pasien mampu melakukan aktiftas sehari-hari secara optimal dengan keteria hasil pasien mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara mandiri.









Tuk 4.
Setelah dilakukan pertemuan 2X15 menit selama 2 hari Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat dengan kriteria hasil keluarga mampu memberi pengarakan yang tepat tentang waktu dan tempat serta orang di sekitarnya dan keluarga mampu memberikan sikap yang terapeutuk pada klien













Tuk 5.
Setelah dilakukan pertemuan 2X15 menit selama 1 pekan keluarga dapat Menyediakan sarana yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas dengan kriteria hasil: klien padat /mampu hal-hal atau sesuatu yang pernah atau sedang di alaminya



Tuk 6.
Setelah dilakukan pertemuan 2X15 menit selama 1 pekan keluarga mampu Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari. keluarga mampu mendampingi klien dalam beraktifitas dan membimbing klien dengan baik.
Tuk 1.
a.Sapa klein dengan baik verbal maupun non verbal.
b.perkenalkan diri dengan sopan
c.jelaskan tujuan pertemuan
d.jujur dan menepati janji
e. tunjukan sifat empati dan menerima klien deangan apa adanya
f. berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar.







Tuk 2.
a.       Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya
tempat tidur, lemari, pakaian dll.
b.      Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan
jam besar, kalender yang mempunyai lembar perhari dengan tulisan besar.
c.       Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota
keluarga terdekat
d.      Beri kesempatan kepada klien untuk mengenal dimana dia berada.
Berikan pujian jika pasien bila pasien dapat menjawab dengan benar



Tuk 3.
e.       Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari
f.       Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya.
g.      Bantu pasien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilihnya
h.      Beri pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
i.        Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
j.        Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari.






Tuk 4.
a.       Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat
b.      Diskusikan dengan keluarga cara-cara mengorientasikan waktu, orang dan tempat
pada pasien
c.       Anjurkan keluarga untuk menyediakan jam besar, kalender dengan tulisan besar
d.      Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang pernah dimiliki pasien
e.       Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih dimiliki oleh pasien
f.       Anjurkan keluarga untuk memantau kegiatan sehari-hari pasien sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
g.      Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat

Tuk 5.
h.      Menyediakan sarana yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi.
i.        Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.



Tuk 6.
j.        Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari.
k.      Anjurkan keluarga untuk memantu lansia melakukan kegiatan sesuai kemampuan
yang dimiliki
l.        Bantu keluarga memilih kemampuan yang dilakukan pasien saat ini


4.      Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi


5.        Evaluasi
a.       Pasien dapat membina hubungan saling percaya.
b.      Pasien mampu mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan tempat.
c.       Pasien mampu meklakukan aktiftas sehari-hari secara optimal.
d.      Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat.
e.       Tersedianya sarana yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas.
f.       Terbantunya pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar